Have Seat Will Travel – Danau Kelimutu adalah salah satu keajaiban alam yang terletak di puncak Gunung Kelimutu di Nusa Tenggara Timur. Danau ini terkenal dengan warna airnya yang dapat berubah-ubah secara misterius. Tidak hanya keindahannya yang menakjubkan, tetapi juga terdapat legenda yang membuatnya semakin angker dan menarik untuk dijelajahi. Terletak di Kabupaten Ende, Flores, danau ini memiliki tiga kawah yang masing-masing memiliki warna berbeda, yang membuatnya disebut sebagai Danau Tiga Warna. Setiap perubahan warna dan keindahannya menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal dan mancanegara.
Danau ini terletak di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Danau ini berada di Gunung Kelimutu, yang memiliki tiga kawah dan tiga danau dengan warna yang berbeda. Gunung ini memiliki ketinggian 1.640 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan merupakan bagian dari cagar alam seluas sekitar 500 hektar. Danau Kelimutu memiliki luas sekitar 1,05 juta meter persegi dengan volume air mencapai 1.292 juta meter kubik.
Keunikan Danau Kelimutu terletak pada perubahan warna air kawahnya. Pada periode 1997 hingga 2006, warna air danau sempat berubah-ubah menjadi merah kecokelatan, merah hati, hijau botol, hingga hijau pupus. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang datang untuk menyaksikan fenomena alam ini. Setiap perubahan warna memberikan nuansa yang berbeda-beda dan memberikan kesan mistis bagi mereka yang menyaksikannya.
Danau Kelimutu ditemukan oleh seorang ilmuwan Belanda bernama Van Such Telen pada tahun 1915. Namun, keindahan dan misteri danau ini baru dikenal luas setelah penulis Y Boumen menuliskannya dalam karyanya. Sejak saat itu, banyak wisatawan asing yang tertarik untuk mengunjungi danau ini, tidak hanya untuk menikmati keindahannya, tetapi juga untuk merasakan sensasi misterius yang ditawarkan oleh Danau Kelimutu.
Pada tahun 1992, kawasan Kelimutu ditetapkan sebagai kawasan konservasi alam nasional, yang menunjukkan betapa pentingnya danau ini bagi ekosistem dan budaya setempat. Melalui konservasi yang dilakukan, Danau ini tetap terjaga kelestariannya hingga saat ini, meskipun jumlah pengunjungnya terus meningkat.
Selain keindahannya, Danau ini juga dikenal dengan legenda yang membuatnya semakin misterius. Menurut cerita yang berkembang di kalangan masyarakat sekitar, danau ini memiliki penunggu yang disebut Konde Ratu dan Pere Konde. Sebelum mengunjungi danau ini, pengunjung biasanya harus memberikan sesajen dan meminta izin kepada penunggu danau agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Legenda yang paling terkenal di kalangan warga setempat adalah cerita tentang seorang duda miskin yang tinggal di Desa Pemo. Duda tersebut memiliki seorang anak perempuan yang sangat disayanginya. Suatu hari, sang duda meminjam palu dari orang kaya, namun ia meninggal dunia sebelum sempat mengembalikannya. Anak perempuan tersebut tidak tahu apa-apa tentang palu yang dipinjam oleh ayahnya, hingga akhirnya pemilik palu datang dan mengamuk.
Dengan penuh emosi, orang kaya tersebut mencaci maki anak perempuan itu, yang lari sambil menangis menuju ke Danau Kelimutu. Di depan ketiga kawah danau, tiba-tiba terdengar suara misterius yang berkata, “Anakku, pulanglah. Palunya ada di atas bubungan rumah.” Sang anak terkejut dan segera pulang untuk mencari palu yang dimaksud. Setelah menemukannya, ia mengembalikannya kepada pemiliknya. Namun, setibanya di rumah, anak perempuan tersebut meninggal dunia.
Cerita ini menjadi bagian dari mitos yang berkembang di masyarakat sekitar danau. Sejak saat itu, masyarakat setempat mematuhi aturan dan norma yang berlaku. Mereka tidak berani mengganggu danau atau merusak kawasan tersebut, karena mereka percaya bahwa ada kekuatan gaib yang menjaga danau ini.
“Simak juga: Meski Menuju Energi Hijau, DPR Sebut Gas dan Batu Bara Masih Dibutuhkan RI”
Fenomena perubahan warna air danau Kelimutu telah memicu berbagai teori dan spekulasi di kalangan masyarakat maupun ilmuwan. Berbagai faktor, seperti kandungan mineral, suhu, dan aktivitas vulkanik, dianggap mempengaruhi perubahan warna air danau ini. Namun, hingga kini, fenomena ini tetap menjadi misteri yang belum terpecahkan sepenuhnya.
Pada tahun 1997, air danau Kelimutu sempat berubah menjadi merah hati dan hijau botol. Selanjutnya, pada tahun 2002, warna danau berubah menjadi hijau pupus dan merah marun, sedangkan pada 2003 hingga 2004, warna air kembali berubah menjadi hijau pupus. Meskipun banyak teori yang mencoba menjelaskan perubahan warna ini, tidak ada satu jawaban pasti mengenai penyebab fenomena alam tersebut.
Perubahan warna air Danau Kelimutu ini terjadi secara alami dan tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi. Banyak pengunjung yang datang dengan harapan dapat menyaksikan perubahan warna yang menakjubkan, yang menjadi daya tarik utama dari danau ini.
Danau Kelimutu tidak hanya terkenal karena fenomena warna airnya yang unik, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang menyuguhkan pemandangan alam yang luar biasa. Para wisatawan yang datang tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga bisa merasakan sensasi mistis yang ada di sekitar danau. Pemandangan sunrise di puncak Gunung Kelimutu menjadi momen yang tak terlupakan bagi setiap pengunjung.
Untuk mencapai Danau Kelimutu, wisatawan harus mendaki sekitar 1,5 jam dari pintu masuk kawasan wisata. Meskipun perjalanan menuju ke danau cukup menantang, namun keindahan alam yang tersaji di sepanjang perjalanan membuatnya menjadi pengalaman yang sangat berharga. Dari puncak gunung, wisatawan dapat menyaksikan keindahan tiga danau dengan warna yang berbeda-beda, menciptakan pemandangan yang sangat memesona.
Masyarakat yang tinggal di sekitar Danau ini, khususnya di Desa Pemo, memiliki hubungan yang sangat erat dengan danau ini. Mereka mematuhi berbagai norma dan aturan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kehidupan sosial dan budaya mereka sangat dipengaruhi oleh keberadaan danau, yang dianggap sebagai sumber kehidupan dan tempat yang dihormati.
Masyarakat sekitar juga sangat menjaga kelestarian danau dengan cara tidak merusak alam sekitar. Mereka meyakini bahwa jika mereka mengabaikan aturan yang berlaku, maka akan ada konsekuensi yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, menjaga danau dan kawasan sekitar tetap bersih dan terjaga kelestariannya menjadi tanggung jawab bersama bagi masyarakat setempat.