Have Seat Will Travel – Ahmad Sahroni kembali mencuri perhatian publik karena isu kabur ke Singapura di tengah gelombang demonstrasi di Jakarta. Saat jutaan orang turun ke jalan menuntut reformasi dan menentang kenaikan pajak, nama Sahroni muncul viral setelah konten kreator Ferry Irwandi menuding dia kabur ke negeri tetangga. Kepanikan massa, kemarahan terhadap parlemen, dan komentar Sahroni yang sempat menyebut pengusul pembubaran DPR sebagai tolol sedunia memicu kemarahan luas. Dugaan pelarian ini menjadi simbol kegamangan elite politik menghadapi tekanan publik. Trending di media sosial, isu ini malah makin memperuncing ketegangan antara rakyat dan wakilnya. Ketika mayoritas anggota DPR memilih work from home, Sahroni justru dikabarkan melakukan work from Singapore. Meski kebenarannya belum dikonfirmasi, kabar itu cepat menyebar dramatis dan penuh sindiran kecaman dari publik yang merasa dikecewakan.
Ahmad Sahroni diperkirakan memilih Singapura sebagai tujuan pelarian karena faktor-faktor strategis yang kuat. Singapura dikenal sebagai negara yang stabil, aman, dan memiliki reputasi kuat dalam menjaga profesionalitas birokrasi. Infrastuktur dan pemerintahan yang efisien membuat pelarian ke sana menjadi pilihan yang dipandang mudah oleh sebagian pihak. Selain itu, perjanjian ekstradisi Indonesia-Singapura sebelumnya sempat ramai dibahas karena Singapura dianggap pernah jadi tempat pelarian politisi atau buronan, meskipun kini perjanjian itu menutup celah tersebut. Meski begitu, banyak yang merasa pelarian ke kota negara itu adalah bentuk menyerah menghadapi pertanggungjawaban publik. Dengan budaya hukum yang ketat dan profesional, Singapura sering dianggap sebagai zona aman di tengah kekacauan lokal. Inilah yang membuat dugaan Ahmad Sahroni memilih negara itu sebagai tujuan kaburnya menjadi wajar menurut narasi netizen.
“Baca juga: Mangli Sky View, Surga Tersembunyi di Atas Awan! Pemandangannya Bikin Tak Mau Pulang”
Sedangkan bagi sebagian anggota DPR, Singapura memang menjadi tujuan favorit—bukan hanya untuk pelarian politik, tapi juga urusan bisnis, kesehatan, pendidikan, dan investasi. Negeri Singa ini selalu jadi pilihan utama karena memungkinkan akses cepat ke layanan medis premium, sekolah internasional, serta sistem hukum yang kuat dan efisien. Sebagai pusat finansial dan ekonomi Asia Tenggara, banyak yang memandang Singapura sebagai basis aman agar bisa tetap aktif di ranah internasional meski situasi dalam negeri sedang panas. Bagi politisi yang membutuhkan konsentrasi, Singapura menawarkan kombinasi mid-career retreat dan proteksi dari sorotan media. Hal ini juga didukung oleh hubungan bilateral yang telah dijaga ketat selama puluhan tahun, sehingga memudahkan buy-in bagi orang-orang Indonesia tertentu untuk mampir atau menetap sementara.
Singapura bukan sekadar tempat pelarian, tapi juga magnet ekonomi bagi banyak elite Indonesia. Negeri kecil itu waktu demi waktu diperkuat citra sebagai pusat investasi dengan regulasi bersahabat dan kebijakan pajak yang kompetitif. Tidak heran jika kantor cabang perusahaan multinasional dipusatkan di sana dan banyak startup menjadikannya hub Asia. Fasilitas logistik, konektivitas global, serta jaringan profesional yang terjalin kuat membuat Singapura ideal bagi orang-orang dengan kepentingan ekonomi lintas batas. Selain itu keberadaan lembaga keuangan internasional mempermudah transfer dana, kerja sama legal, hingga akses ke layanan internasional yang sulit didapat di dalam negeri. Kondisi ini menjadikan Singapura populer di kalangan politikus dan pebisnis kasta atas yang membutuhkan perlindungan ekonomi sekaligus jaringan global.
Publik langsung bereaksi keras usai isu Ahmad Sahroni kabur ke Singapura merebak. Banyak yang merasa dikhianati oleh wakil rakyat yang justru memilih lari ketimbang mendengar suara rakyat. Isu ini memperparah ketidakpercayaan terhadap wakil politik dan menggugah solidaritas massa untuk menyerukan akuntabilitas. Para demonstran pun makin masif menuntut transparansi lebih, bukan hanya soal pernyataan kasar terhadap rakyat tapi juga soal standar moral para wakil mereka. Isu kabur ke Singapura malah dianggap simbol elit yang untouchable dan lepas tanggung jawab. Media sosial lalu menyulut debat besar soal patriotisme dan pengabdian kepada rakyat. Kritik publik semakin tajam saat disandingkan dengan mereka yang meninggal demi nasib demokrasi seperti driver ojol. Semua pihak berharap agar kasus ini tidak hilang begitu saja begitu Kabur di luar negeri.